Minggu, 14 Januari 2018

MakalahTafsir Tahlili Surat Alu-Imran ayat 10-20

Alu Imran ayat 10
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ  
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikitpun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka.”
Dalam ayat ini penulis mengutip pesan bahwa orang-orang kafir, harta dan anak-anak mereka tak akan menolak siksa api neraka dan lebih dari itu, didalam ayat ini terdapat kata هُمْ وَقُودُ النَّار yang artinya “mereka diibaratkan sebagai bahan api neraka.
Adapun ayat ini dalam kitab Ibnu Kastir bahwa ada beberapa ayat lain yang ada ketersambungan kata ataupun artinya, diantaranya:
1.      Surat at-Taubah ayat 55

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelask akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir.”
Dalam ayat ini terdapat kata فَلَا تُعْجِبْكَ yang berpesan kepada mereka ketika didunia berupa harta benda dan anak-anak tidak ada manfa’atnya bagi mereka di sisi Allah, dan juga tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari siksa Allah yang sangat pedih.
2.      Surat ali-Imran ayat 196-197
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri (196). Itu hanyalaah kesenangan sementara, kemudian tempattinggal mereka ialah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat seburuk-buruknya.”
Dalam ayat ini terdapat kata لَا يَغُرَّنَّكَ yang berpesan kepada kita janganlah kita terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir, karena kesenangan di dunia ini hanyalah kesenangan yang sifatnya hanya sementara.
3.      Surat al-Anbiya ayat 98
إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ
“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kalian pasti masuk kedalamnya.”
Adapun dalam ayat ini terdapat kata حَصَبُ جَهَنَّمَ yang berarti sesungguhnya mereka dan  segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah adalah kayu bakar jahannam.
Kesimpulan dari surat ali-Imran ayat 10 ini bahwa orang-oarang kafir dan apapun yang mereka punya, berupa harta benda maupun anak-anak mereka dan segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah maka bagi mereka adalah neraka jahannam, mereka bagaikan bahan kayu bakar ap neraka. Maka sesungguhnya dalam ayat ini pula berpesan kepada kita semua bahwa segala sesuatu yang kita punya, kesenangan, harta benda semuanya hanya sebuah kesenangan sementara yang tidak akan kita bawa setelah kita mati.

Alu Imran ayat 11

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ                                                                                                                                              
“keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya.”

Dalam ayat diatas merupakan ketersambungan dengan ayat sebelumnya yang berkaitan dengan orang-orang kafir (fir’aun), yang memberi penjelasan bahwa perbuatan mereka itu (kafir) seperti kaum fir’aun.
Dengan demikian ayat 10-11 menerangkan bahwa orang-orang kafir tidak akan  bermanfaat untuk diri sendiri harta benda dan anak-anak mereka semuanya akan binasa dan disiksa seperti kaum fir’aun.
Alu Imran ayat 12
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَاد
katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, "Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”

Dalam ayat diatas terdapat kata سَتُغْلَبُونَ yang bermakna “pasti dikalahkan”, maksudnya orang-orang kafir pasti akan dikalahkan dan digiringkan pada hari kiamat kelak nanti kedalam neraka Jahannam. Dengan kata lain, ayat ini juga menyindir ayat sebelumnya (10-11) yang membahas tenyang orang-orang kafir dan balasan yang akan mereka terima dihdapan Allah swt.

Alu Imran ayat 13
Adapun ayat diatas terdapat kata فِئَتَيْنِ, dalam kitab Ibnu Katsir
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَار
 “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).”
dijelaskan bahasa kata tersebut mempunyai dua arti yaitu kelompok yang berperang dijalan Allah dan kedua kelompok kafir. Dan dijelaskan dengan kalimat setelahnya yaitu يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ “dengan mata kepala mereka (seakan-akan) orang-orang muslim duakali jumlah mereka”.
Adapun ayat yang berkaitan dengan ayat diatas antara lain dalam surat al-Anfal ayat 44:
وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُور
“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan”.
Ayat ini mengandung beberapa maksud akan perjumpaan mereka dangan jumlah yang sama besar, diantaranya:
1.      Jumlah pasukan yang banyak
a.       Ketika kaum kafir melihat kaum muslim sangat banyak, Allah menjadikan mereka akan rasa takut, hati kecut dan mental mereka beserta semnagat tempurnya jatuh
b.      Ketika kaum muslim melihat kaum kafir sangat banyak, Allah menjadikan mereka (muslim) agar bertawakal, berserah diri dan meminta pertolongan Allah swt.
2.      Jumlah pasukan yang sedikit
a.       Allah menjadikan keduanya agar supaya masing-masing pasukan maju dengan penuh semangat untuk menghancurkan pihak lainnya.

Lalu bagaimana cara membedakan antara yang bathil dan yang hak dalam ayat diatas dan penjelasan diatas. Maka Allah swt. memenangkan kaum muslim karena kalimat iman menang atas kalimat kekufuran dan kedzalimannya.
Maka turunlah kalimat setelahnya yang berbunyi وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ yang mana kalimat ini memberikan pelajaran bagi kita dan bagi orang-orang yang mempunyai mata hati dan pemahaman bahwa ayat inilah yang dijadikan sebagai petunjuk akan ketetapan dan takdir Allah swt. Ketika menolong hamba-hambanya yang beriman di kehidupan dunia ini.

Alu Imran ayat 14

 زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Dalam ayat ini sedikit menyinggung kepada ayat ke 10 yang menerangkan bahwa orang-orang kafir dan apa yang mereka punya semuanya tak akan bisa menolak siksa api neraka. Namun dalam ayat ini terdapat kata زُيِّنَ لِلنَّاسِ yang artinya “dijadikan indah pada pandangan manusia”, yang mana kata “naas” ini dimaksudkan kepada seluruh manusia yaitu kita semua yang dijadikan perhiasan bagi manusia dalam kehidupan ini berupa kesenangan antara lain wanita, dan anak-anak, harta yang banyak dan lain-lain. Terlebih dalam ayat ini terdapat penjelasan pertama yaitu kata النِّسَاءِ yang artinya “wanita”, mengapa demikian?. Karena darinyalah fitnah yang sangat kuat muncul. Adapun penjelasan setelah kata ini yaitu anak-anak, harta dan lain sebagainya sama seperti dengan penjelasan sebelumnya yaitu merupakan perbuatan yang tercela, apabila semua yang dijelaskan dalam ayat ini dilakukan dengan dan hanya untuk kesenangan semata-mata, membanggakan diri, menyombongkan diri, takabbur dan lain sebagainya.
Lalu Allah swt. memberikan penjelasan yang lebih akan kesia-siaan mereka yaitu dengan kata وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ  yang memberikan kabar kepada kita bahwa segala sesuatu itu akan kepada sang Maha Pencipta.

Alu Imran ayat 15
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِير بِالْعِبَادِ                                                                                                                                                 
“katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta ridha Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”
Setelah berbicara tentang perhiasan yang semata-mata hanya untuk kesenangan di dunia ini yaitu dalam ayat sebelumnya, maka Allah memberikan kabar kepada nabi Muhammad untuk disampaikan kepada kita yaitu قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ yang artinya “Katakanlah, “inginkah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik daripada apa yang demikian itu?”. Maksudnya adalah “Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang, “Aku akan memberitahukan kepada kalian hal yang lebih baik daripada apa yang dihiaskan kepada manusia dalam kehidupan di dunia ini berupa kesenangan dan gemerlapannya yang semuanya itu akan pasti lenyap”. Maka untuk siapakah itu semuanya, Allah pun mengabarkan dengan kata setelahnya yaitu لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ yang artinya untuk orang-orang yang betakwa kepada Allah.  Dan balasannya bagi orang-orang yang bertakwa ialah surga yang mengair dibawahnya sungai-sungai kekal didalamnya dan istri-istri yang disucikan dan kenikmatan yang lainnya.  

Alu Imran ayat 16
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 “(yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Ayat ini masih ada ketersambungan dengan ayat sebelumnya yang dimana ayat ini memberikan penjelasan  bahwa sifat-sifat orang yang bertakwa telah dijanjikan Allah swt. akan mendpatkan pahala yang berlimpah. Siapakah mereka?, mereka adalah orang-orang yang berdoa  رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  “Ya Tuhan kami, sesunggunya kami telah beriman” فَاغْفِرْ لَنَا “maka ampunilah segala dosa kami” وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  “dan perihalalah kami dari siksa neraka”.

Alu Imran ayat 17
                                                                                وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ
“(juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.
Setelah ayat sebelumnya menjelaskan sifat-sifat orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, namun dalam ayat ini akan menjelaskan bagaimana caranya untuk selalu istiqomah dalam menjaga ketakwaan. Yaitu pada kata pertama dikatakan الصَّابِرِينَ maksudnya ialah sabar dalam menjalankan ketaatan dan meningalkan semua hal yang diharamkan. Lalu yang kedua yaitu وَالصَّادِقِينَ yakni yakin kepada apa yang diberitakan kepada mereka berkat iman mereka dalam arti kata berteguh hati dalam mengerjakan amal-amal yang berat. Dan yang ketiga وَالْقَانِتِينَ yang dimaksud dengan qoonit diatas yaitu patuh dan taat. Dan yang ke empat  وَالْمُنْفِقِينَ maksudnya ialah menafkahkan sebagianhartanya dijalan Allah swt. untuk ketaatan yang diperintahkan oleh Allah swt. Dan yang terakhir adalah وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَار selalu meluangkan sepertiga malamnya untuk selalu beristighfar.

Alu Imran ayat 18
 شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ                                                                                                                           
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikuan pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Dalam ayat ini Allah swt. menyatakan dan memberikan pernyataan-Nya, bahwasanya hanya Allah semata yang akan menjadi saksi. Ia lah sebagai saksi Yang Maha Besar lagi Maha Adil, karena tersimoan kata-kata لَا إِلَهَ إِلَّا هُو yang artinya bermakna “bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia.” Dengan demikian ayat ini mengandung kebesaran Allah, mengapa demikian, karena Allah swt. Tuhan semua makhluk, dan semua makhluk di dunia ini termasuk kita semua adalah hamba-Nya dan merupakan ciptaan-Nya.
Adapun ketersambungan ayat lainnya yang sama dengan penjelasan diatasterdapat dalam surat An-Nisa ayat 166 yang berbunyi:

“tetapi Allah mengakui Al-Quran yang diturunkan-Nya kepadamu.” Dengan demikian ayat ini pula mengandung pernyataan bahwa Allah swt. mengiringi pernyataan-Nya itu dengan kesaksian para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang dinyatakan dengan kesaksian atau dengan pernyataan-Nya.
Adapun kata setelah nya yaitu قَائِمًا بِالْقِسْطِ maknanya “yang menegakkan keadilan”. Maksudnya, hal ini merupakan suatu keistimewaan yang besar bagi para ulama dalam kedudukan tersebut. Selanjutnya pada lafaz قَائِمًا dalam kita Ibnu Katsir dinasabkan karta ini sebagai hal. Dengan kata lain, Allah swt. senantiasa menegakkan keadilan dalam segala hal da keadaan. Maka dilengkapilah dengan kata setelahnya yaitu لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ yang dimaksud dalam kalimat ayat ini berkedudukan sebagai kalimat Tauhid atau yang memperkuat kalimat sebelumnya dan Ia lah Allah swt. yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Alu Imran ayat 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ                 
Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Ketika kita mendengar kata إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ banyak dari kalangan masyarakat beragumen bahwasanya agama yang terabaik disisi Allah swt. hanyalah agama Islam sendiri. Dari ayat diatas Allah swt. memberikan berita dan menyatakan kepada kita bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang disisi-Nya selain agama Islam. Lalu apakah hanya sekedar masukdan memeluk agama Islam, tentu tidak. Akan tetapi kita semua harus mengikuti Rasul-Nya yang diutus disetiap masa hingga nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad saw. Karena dari Nabi Muhammad lah yang membawa agama Islam sebagai penutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditempuhnya. Barang siapa yang menghadap kepada Allah swt. setelah Nabi Muhammad diutus oleh-Nya dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Seperti dalam ayat 85 surat Alu Imran juga yang artiinya:
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari-Nya.”
Maka dalam ayat ini, Allah swt. memberikan terbatasnya agama yang diterima oleh Allah hanaya pada agama Islam, yaitu: Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah swt. hanyalah Islam.

Alu Imran ayat 20
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَاد                                                                                                        
“Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, "Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf, "Sudahkah kamu masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”       
فَإِنْ حَاجُّوكَ makna kata-kata ini yaitu mendebatmu tentang masalah tauhid. Yakni bahwa aku memurnikan ibadahku hanya karena Allah semata, tidak ada sekutu bagin-Nya, dan tidak ada bandingan-Nya, tidak beranak dan juga tidak pula diperanakan. Dengan kata lain segala perbuatan yang kita kerjakan dan kita lakukan semuanya hanya untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu dalam ayat ini memberi isyarat bahwa hanyalah Allah tempat kita meminta, berharap sesuatu, dan Allah itu adalah yang maha Esa yaitu satu atau al-ahadu,karena-Nyalah kita dapat hidup dimuka bumi ini dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Lalu apa yang dimaksud dengan وَمَنِ اتَّبَعَنِ atau orang-orang yang mengikutiku?. Yang dimaksud dalam kata ini ialah orang-orang yang bearada dalam agamaku akan mengatakan hal yang sama dengan ucapanku ini. Seperti yang dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 108 yang artinya:
Katakanlah, “inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujah yang nyata.”
Kemudian Allah memerintkahkan kepada hamda dan Rasul-Nya untuk menyeru orang ahli kitab dari kalangan dua agama (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang buta huruf atau الْأُمِّيِّينَ dari kalngan orang musyrik, agar mereka mengikuti jalannya, memasuki jalnnya, memasukiagamanya, serta mengamalkan syariatnya dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Lalu Allah melanjutkan firmannya dengan maksud Allah-lah yang menghisab mereka karena hanya kepada-Nya lah mereka kembali. Dan Allah maha membolak-balikan sesuatu dengan apa yang Allah kehendaki, karena sejatinyasemua hikmah hanyalah milik-Nya dan tempat hujah yang benar.
Dan Allah menutup ayat ini dengan kata وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَاد yaitu Allah yang maha mengetahui siapa yang berhak mendapatkan hidayah dansiapa yang berhak mendapat kesesatan. Dia berhak melakukan itu.

Resensi Buku Novel Negeri 5 Menara




Judul Novel: Negeri 5 Menara
Pengarang Cerita Novel: Ahmad Fuadi
Penerbit Novel: PT. GRAMEDIA
Tahun Terbit Novel: 2009
Ketebalan Novel: 416 Halaman
Jenis Novel: Edukasi
Judul Resensi: Kiat Menjadi Orang yang Sukses

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.
Setamat SMP di Padang ia terpaksa melanjutkan sekolah ke Pondok Madani, sebuah pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, menuruti kehendak orangtuanya. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Keinginan kedua orangtuanya tentu saja tidak salah, sebagai ‘emak’ (ibu) kala itu, menginginkan supaya anaknya menjadi seorang yang bernama, dihormati di kampung seperti menjadi guru agama. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie.
Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya, belajar di pondok. “Memiliki anak yang sholeh dan berbakti kepada orangtua adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya dikala sudah tiada", Ujar Alif mengenang keinginan Emak di kampung pada waktu itu. Di tempat yang tidak disukainya itu ia kemudian bersahabat dengan lima teman dari lima daerah berbeda. Di situ pula mereka mengenal dan belajar menghayati ajaran man jadda wajada, yang artinya “Siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.”
Dia terheran-heran mendengar komentator sepak bola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan saat menunggu adzan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi. Itulah cuplikan utama cerita novel negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi ini. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing.
Dengan membayangkan awan itulah meraka menggambarkan impiannya. seperti Alif mengakui jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, yaitu sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak setelah lulus nanti. Begitu juga dengan yang lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Belajar di pesantren bagi Alif ternyata memberikan warna tersendiri baginya. Ia yang dulunya beranggapan bahwa dunia pesantren adalah konservatif, kuno, ‘kampungan’, ternyata anggapan itu salah besar. Di pesantren ternyata benar-benar menjunjung sikap kedisiplinan yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan berkomitmen.

Di dunia pesantren mental para santri dibakar oleh para uztads supaya itu semua dilakukan supaya santri tidak mudah menyerah dan memiliki mental baja. Setiap hari, sebelum masuk dalam kelas, selalu menyanjungkan kata-kata ajaib “man jadda wa jadda" barang siapa yang bersungguh-sungguh berhasilah ia.
Sayang, dalam film segalanya malah terkesan mudah dan biasa-biasa saja. Ajaran tersebut sepanjang film terus diulang-ulang secara verbal. Alif dan kawan-kawan digambarkan lebih sering ngobrol di kamar asrama dan kaki menara masjid ketimbang bekerja keras bila perlu sampai melewati batas kemampuan diri untuk mewujudkan keinginan masing-masing. Sesuatu yang justru bisa menjadi sumber konflik antarmereka. Pada Alif, misalnya, tidak terasa kesungguhannya melakukan sesuatu yang yang lebih dari teman-temannya agar bisa melanjutkan kuliah di ITB, Bandung. Ia bahkan lebih tampak sebagai pengeluh dan pemimpi.
Konflik di dalam diri Alif (mengikuti kehendak orangtua tapi tetap bermimpi masuk ITB) tidak tergarap baik. Bukan cuma berakibat kita kehilangan ikatan emosional dengan karakater utama, hal itu juga membuat film ini kehilangan fokus. Apalagi, konflik dalam pertemanan enam sekawan itu baru muncul belakangan, yakni sewaktu mempersiapkan pementasan kesenian.
Meskipun begitu, dalam kumpulan film bertema from zero to hero, Negeri 5 Menara setidaknya menyumbang perspektif baru mengenai sukses (dalam kaitannya dengan dunia pendidikan). Sukses bukanlah menjadi kaya, mempunyai kedudukan tinggi, dan terkenal seperti yang kini diyakini hampir semua orang, melainkan seberapa berguna (hidup) kita buat orang lain.

Rabu, 10 Januari 2018

Makalah Studi Naskah Tafsir Surat Al-Hujurat ayat 13 dalam Tafsir Al-Qurthubi


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dahulu manusia diciptakan hanya satu yaitu Adam kemudian diciptakan Hawa untuk menemani Adam di Surga, yang mana menunjukkan bahwa Manusia membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kemudian lahirlah dari keduanya keturunannya sampai sekarang yang tersebar diseluruh bumi, dijadikan mereka berbeda-beda bukan untuk saling memerangi tapi agar saling mengasihi dan mengenali.
Dalam al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran Islam juga dijelaskan oleh Allah terkait anjuran untuk memanfaatkan keberagaman sebagai sebuah kekuatan dengan langkah awal pengenalan, hal ini sebagaimana yang akan dijelaskan dalam makalah ini yaitu tafsir surat al-Hujurat ayat 13. Yang mana perkenalan ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan cara saling menarik pelajaran dan pengalaman dari pihak lain, yang dampaknya tercermin kedamaian dan kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa isi penafsiran dari surat al-Hujurat ayat 13 ?
2. Siapa manusia yang paling mulia itu ?
C. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah membaca teks Tafsir, selain itu juga untuk menambah pengetahuan penulisnya khususnya dan umumnya untuk teman-teman diskusi di kelas tentang penafsiran surat al-Hujurat ayat 13.





BAB II
PEMBAHASAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Tafsir Mufrodat
Setelah memberi petunjuk tata krama pergaulan dengan sesama muslim, ayat di atas beralih kepada uraian tentang prinsip dasar hubungan antarmanusia. Karena itu, ayat di atas tidak lagi menggunakan panggilan yang ditujukan kepada orang-orang beriman, tetapi kepada jenis manusia. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yakni Âdam dan Hawwâ’, atau dari sperma (benih laki-laki) dan ovum (indung telur perempuan), serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa juga bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal yang mengantar kamu untuk bantu-membantu serta saling melengkapi, sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, walaudetak detik jantung dan niat seseorang.

Tinjauan Bahasa
                                                                       
قَبَائِلَ :Jamak dari kata “kabilah”, yaitu kelompok yang terikat nasab atau kehormatan. Kabilah (suku) lebih khusus daripada sya’b (bangsa).    
 
Asbab An-Nuzul
Ibnu abi Hatim dari Abi   yang berkata, “Setelah pembebasan kota Mekah, Bilal naik ke atas Ka’bah lalu mengumandangkan azan. Melihat hal itu sebagian orang lalu berkata, “Bagaimana mungkin budak hitam ini yang justru mengumandangkan azan di atas Ka’bah!’ Sebagian yang lain berkata (dengan nada mengejek), ‘Apakah Allah akan murka kalau bukan dia yang mengumandangkan azan?’ Allah lalu menurunkan ayat ini.”
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam kitab al-Mubhamaat, “Saya menemukan tulisan tangan dari Ibnu Basykual yang menyebutkan bahwa Abu Bakar bin Abi Daud meriwayatkan dalam kitab tafsirnya, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan Abi Hindun. Suatu ketika Rasulullah menyuruh Bani Bayadhah untuk menikahkan Abi Hindun ini dengan wanita dari suku mereka.  Akan tetapi, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami akan menikahkan anak wanita kami dengan seorang budak.’ Lalu turunlah ayat ini.
Menurut pendapat lain, ayat ini diturunkan tentang Tsabit bin Qais bin Syamas dan ucapannya kepada orang yang tidak memberikan tempat pada dirinya: “Anak si fulanah,” dimana Nabi kemudian bertanya: “Siapa yang menyebutkan Fulanah?” Tsabit menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda kepadanya, “Lihatlah wajah orang-orang itu.” Tsabit melihat (wajah mereka), lalu Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Tsabit menjawab, “Aku melihat yang putih, hitam, dan merah.” Nabi bersabda, Sesungguhnya engkau tidak dapat mengungguli mereka kecuali dengan ketakwaan.”
Meskipun berbeda, ketiga sabab nuzul ini mengisyaratkan bahwa ayat ini turun sebagai larangan memuliakan atau melecehkan manusia berdasarkan keturunan, kesukuan, maupun kebangsaan.

Tafsir Ayat dan Penjelasannya
Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.
Dari ayat ini juga dapat dilihat bahwa manusia satu sama lain harus saling mengenal, saling memahami dan untuk kemudian dapat bekerjasama. Melalui konsep ta’aruf sesungguhnya Islam mengajarkan pentingnya bermasyarakat, membentuk kesamaan visi dan memperjuangkan cita-cita sosial sesama anggota masyarakat. Islam juga mengakui perbedaan yang dimiliki oleh manusia, misal perbedaan kapasitas intelektual, status sosial, tingkat ekonomi dan sebagainya. Sebagaimana firman-Nya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya:“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS. Az-Zukhruf/43: 32).
Menurut Qurasih Shihab, adanya perbedaan-perbedaan tersebut memberi isyarat bahwa manusia dapat saling mengambil manfaat antara satu sama lain, dan menjadi penegas bahwa “bermasyarakat adalah sesuatu yang lahir dari naluri alamiah.”
Fakhruddin ar-Razi memberikan paparan menarik. Menurutnya, segala sesuatu bisa diunggulkan dari yang lain karena dua factor: (1) faktor yang diperoleh sesudah kejadiannya seperti kebaikan, kekuatan, dan berbagai sifat lain yang dituntut oleh sesuatu itu; (2) faktor sebelum kejadiannya, baik asal-usul atau bahan dasarnya maupun pembuatnya; seperti ungkapan tentang bejana: “Ini terbuat dari perak, sementara itu terbuat dari tembaga”; “Ini buatan Fulan, sedangkan itu buatan Fulan.”
: {إِنَّا خَلَقْنَـاكُم} فائدة ؟ نقول نعم ، وذلك لأن كل شيء يترجح على غيره ، فإما أن يترجح بأمر فيه يلحقه ، ويترتب عليه بعد وجوده ، وإما أن يترجح عليه بأمر هو قبله ، والذي بعده /كالحسن والقوة وغيرهما من الأوصاف المطلوبة من ذلك الشيء ، والذي قبله فإما راجع إلى الأصل الذي منه وجد ، أو إلى الفاعل الذي هو له أوجد ، كم يقال في إناءين هذا من النحاس وهذا من الفضة ، ويقال هذا عمل فلان ، وهذا عمل فلان ، فقال تعالى لا ترجيح فيما خلقتم منه لأنكم كلكم من ذكر وأنثى ، ولا بالنظر إلى جاعلين لأنكم كلكم خلقكم الله ، فإن كان بينكم تفاوت يكون بأمور تلحقكم وتحصل بعد وجودكم وأشرفها التقوى والقرب من الله تعالى .

Firman Allah Swt., Inna khalaqnâkum min dzakar wa untsâ, menegaskan bahwa tidak ada keunggulan seseorang atas lainnya disebabkan perkara sebelum kejadiannya. Dari segi bahan dasar (asal-usul), mereka semua berasal dari orangtua yang sama, yakni Adam dan Hawa. Dari segi pembuatnya, semua diciptakan oleh Zat yang sama, Allah Swt. Jadi, perbedaan di antara mereka bukan karena faktor sebelum kejadiannya, namun karena faktor-faktor lain yang mereka peroleh atau mereka hasilkan setelah kejadian mereka. Perkara paling mulia yang mereka hasilkan itu adalah ketakwaan dan kedekatan mereka kepada Allah Swt.
Al-Qurthubi menyebutkan bahwa pada ayat ini dibahas tujuh masalah yaitu:
Sikap rasisme yakni merasa ras diri sendiri yang paling unggul. Hal ini bisa kita lihat dari salah satu asbab an-nuzul pada ayat ini yang menceritakan tentang kisah Bilal yang diperintah oleh Rasulullah untuk mengumandangkan azan, ketika ia berada di atas Ka’bah Harits bin Hisyam menyindirnya dengan mengatakan, ‘gagak hitam’.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan makhluk-Nya dari seorang laki-laki dan perempuan. Demikian pula dengan apa yang telah Allah jelaskan di awal surah an-Nisa’
Allah menciptakan makhluk-Nya--dari persilangan laki-laki dan perempuan—bernasab-nasab, bermarga-marga, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dari itulah Allah menciptakan perkenalan di antara mereka, dan mengadakan regenerasi bagi mereka, demi sebuah hikmah yang telas Allah tentukan. Hanya Dia yang mengetahui hikmah tersebut.
Sekelompok ulama dari generasi pendahulu berpendapat bahwa janin itu terbentuk dari sperma laki-laki saja. Janin itu berkembang di dalam rahim ibu dan mengambil darah yang ada di sana. Namun pendapat yang shahih dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa penciptaan itu dari sperma laki-laki dan sperma perempuan yang berlandaskan pada: (QS: al-Mursalat/78: 20-21), (QS: as-Sajadah/38:8), (QS: al-Qiyamah/75:37).
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا “Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” Asy-syu’ub adalah pucuk kabilah, seperti Rabi’ah, Mudhar, Aus dan Khajraj. Bentuk tungalnya adalah  sya’bun. Dinamakan demikian sebab mereka itu bercabang-cabang seperti bercabangnya pohon. Asy-Sa’b  adalah termasuk kata yang memiliki makna saling berlawanan.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “sesungguhnya orang-orang yang paling mulia disii Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” Firman Allah ini sudah dijelaskan pada surat az-Zhukhruf, ketika membahas firman Allah ................”Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu.” (Qs. Az-Zukhruf :44). Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sesungguhnya ketakwaan-lah yang dipandang oleh Allah dan Rasul-Nya, bukanlah kedudukan dan garis keturunan.
Ath-Thabari menuturkan: Umar bin Muhammad maenceritakan kepadaku, dia berkata: Ubaid bin Ishaq Al-Athar menceritakan kepada kami, dia berkata: Mandal bin Ali menceritakan kepada kami dari Tsaur bin Yazid, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dia berkata.”Seorang lelaki anshar mengawini seorang perempuan, kemudian ia dicela karena garis keturunan peremuan itu. Lelaki itu berkata,”Sesungguhnya aku tidak menikahinya karena garis keturunannya, akan tetapi aku menikahinyFiqhul Hayah
Ayat diatas menunjukkan mengandung beberapa hal, diantaranya sebagai berikut :
Pertama, ayat di atas menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dan yang lain. Tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Kedua, Pendidikan ta’aruf yaitu untuk saling mengenal antar manusia lintas budaya, suku, bahasa, agama, geografis dan tidak diskriminatif.
Ketiga, adanya rahasia yang sangat mendalam. Dalam hal ini, kasus pembicaraan rahasia antara istri-istri Nabi saw., ‘Âisyah dan Hafshah, menyangkut sikap mereka kepada Rasul yang lahir akibat kecemburuan terhadap istri Nabi yang lain, Zainab ra. Dalam QS. at-Tahrîm [66]: 3, Allah berfirman bahwa:

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka, tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada ‘Âisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dan ‘Âisyah) kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka, tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan ‘Âisyah) lalu Hafshah bertanya: ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab: ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’”
Keempat, adalah mengenai kualitas ketakwaan adalah menunjukkan kemuliaan seorang hamba di sisi Allah, seorang manusia tidak dapat menilai kadar dan kualitas keimanan serta ketakwaan seseorang. Yang mengetahuinya hanya Allah swt. Manusia hanya melihat ketakwaanya zhahirnya saja, sedangkan ketakwaan batiniyahnya tidak ada seorangpun yang tau kecuali hanya Allah.








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dan ketergantungan dengan manusia yang lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri buktinya Allah awalnya menciptakan Adam kemudian menciptakan temennya yaitu Hawa, kemudian setelah itu lahirlah keturunan-keturunannya hingga saat ini.
Dijadikannya Manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku bukan untuk saling memerangi, namun untuk saling mengenal dan saling mengasihi. Derajat kemuliaan seseorang itu diukur dengan menggunakan tolak ukur suku, strata sosial, banyaknya harta, keturunan tertentu, tetapi tingginya derajat kemuliaan seseorang di hadapan Allah adalah mereka yang paling takwa kepadanya.



DAFTAR PUSTAKA
Al-Qurthubi,Imam. Tafsir Al-Qurthubi. Terjemahan: Akhmad Khatib, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009).
Ar-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib. Maktabah Syamilah.
Ash-Shabuni, Ali. Shafwatut Tafasir. Terjemahan: Yasin. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011).
As-Suyuthi, Jalaluddin Lubab an-Nuqul Fi Asbab An-Nuzul. Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani dkk. (Depok: Gema Insani, 2008).
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan  Tafsirnya. (Jakarta: Perpustakaan Nasional  RI, 2007. ). Jilid 9. hal. 420.
Kementerian Agama RI. Tafsir Al-Qur’an Tematik; Tanggung Jawab Sosial. (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI). hal. 258-259.
Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Umat. (Bandung: Mizan, 2001). cet-XII.a karena agama dan budi pekertinya.”

Senin, 11 Desember 2017

Makalah Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah ayat 89

MAKALAH
Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah ayat 89
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Asbabun Nuzul Al-Qur’an

Dosen Pengampu:
Hidayatullah, M.A





Disusun oleh:
Abdullah Sa’bani

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN (PTIQ)
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Pada masa Nabi terkadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau, dengan maksud meminta ketegasan hukum atau memohon penjelasan secara terperinci tentang urusan-urusan agama, sehingga turunlah beberapa ayat dari ayat-ayat al-Qur’an, hal yang seperti itulah yang dimaksud dengan asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya al-Qur’an.
Dalam tulisan singkat ini akan sedikit membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan asbabun nuzul surat Al-baqarah ayat 89, mulai dari asbabun nuzul ayat, penjelasan ayat dari beberapa pendapat para ulama. Namun, kesempurnaan makalah ini kami sadari masih sangatlah jauh, sehingga mungkin bagi kita untuk terus belajar dan mendalaminya di kesempatan yang mendatang.



















BAB II
PEMBAHASAN
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al-Quran) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar”. (QS. Al-Baqarah, 89).
Asbabun Nuzul
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كَانَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ فَلَمَّا الْتَقَوْا هُزِمَتْ يَهُودُ، فَعَادَتْ: يَهُودُ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَقَالُوا: إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا تَنْصُرُنَا عَلَيْهِمْ
Ibnu Abbas berkata: Orang-orang Yahudi Khaibar pada zaman dahulu selalu memerangi orang-orang Ghathfan (bangsa Arab). Setiap kali bertempur orang-orang Yahudi selalu menderita kekalahan. Kemudian orang-orang Yahudi meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan memanjatkan do’a: “Ya Allah, sesungguhnya kami mohon pertolongan kepada-Mu dengan kebenaran Muhammad, Nabi yang Ummi (tidak bias membaca dan menulis, tetapi pandai), yang telah Engkau janjikan kepada kami, yang Muhammad akan Engkau utus pada akhir zaman. Bukankah Engkau akan memberi pertolongan kepada kami untuk mengalahkan mereka.”

Setiap kali mereka bertempur do’a ini selalu dikumandangkan, sehingga orang-orang Ghathfan menderita kekalahan. Tetapi dikala Muhammad bin Abdillah diutus menjadi Rasulullah terakhir orang-orang Yahudi mengkufurinya. Sehubungan dengan kebohongan dan kekufuran orang-orang Yahudi itu Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai ketegasan tentang laknat kepada mereka karena do’a yang mereka panjatkan telah dikabulkan, tetapi akhirnya mereka ingkar kepada Allah SWT dengan mengkufuri utusan-Nya.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi minta pertolongan untuk mengalahkan kaum Khazraj dengan memakai nama Rasulullah SAW, maka berkatalah Muadz bin Jabal, Bisyrubnul Barra dan Dawud bin Salamah kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi! Takutlah kamu kepada Allah SWT dan masuk Islamlah kamu, karena kamu telah minta pertolongan kepada Allah SWT memakai nama Muhammad untuk mengalahkan kami, disaat kami termasuk kaum musyrikin. Kamu memberi kabar kepada kami bahwa sesungguhnya ia (Muhammad) akan diutus, dan kamu mengemukakan sifat-sifat Muhammad dengan sifat yang ada padanya itu”. Maka berkatalah Salam bin Masykam salah seorang dari Bani Nadzir. “Dia tidak memenuhi sifat-sifat yang kami kenal, dan dia bukan kami terangkan kepadamu”.
Ibnu ‘Abbas ra. memaparkan bahwa ayat ini diturunkan sebagai penjelasan tentang keingkaran kaum Yahudi. Saat Muhammad belum diutus menjadi Rasul, kaum Yahudi meminta pertolongan dengan bertawasul menggunakan nama Muhammad untuk mengalahkan Bani Aus dan Khazraj. Namun, setelah Allah SWT mengutus seorang Rasul dari bangsa Arab, mereka mengingkarinya.

Munasabah
Dari kisah ini dapat dipahami, bahwa mereka sebenarnya dengki kepada orang orang Islam. Kedengkian itu timbul setelah Allah mengutus Nabi Muhammad saw. dari kalangan orang-orang Arab, tidak dari kalangan mereka. Itulah sebabnya mereka terjerumus di lembah keingikaran dan kekafiran. Maka Allah memberikan ketetapan-Nya, bahwa mereka akan terusir dan jauh dari rahmat-Nya karunia keingkaran mereka pada kebenaran, setelah kebenaran yang diharap-harapkan itu nampak di hadapan mereka.


Penjelasan Ayat
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ “Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah SWT yang membenarkan apa yang ada pada mereka.” Yakni, al-Qur’an dating kepada orang Yahudi yang membenarkan Taurat.
وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang kafir.” Artinya, atas orang-orang musyrik. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Dulu orang Yahudi selalu memohon kedatangan Rasulullah sebelum beliau diutus untuk mendapatkan kemenangan atas kabilah ‘Aus dan Khazraj. Tapi ketika Allah mengutus Rasulullah itu dari kalangan Arab, mereka tidak mengkauinya dan membantah apa yang pernah mereka dikatakannya tentang Rasul itu”. Kemudian Mu’adz bin Jabal, Basyar bin al-Barra’ bin Ma’rur dan Daud bin Salamah mengatakan kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi! Bertakwalah kepada Allah SWT dan masuk Islamlah kamu, dulu kalian memohon kedatangan Muhammad untuk mengalahkan kami, sementara kami waktu itu termasuk kaum musyrik. Kalian memberi tahu kami bahwa sesungguhnya ia (Muhammad) akan diutus, dan kalian juag merindi sifat-sifatnya kepada kami”. Maka berkatalah Salam bin Masykum salah seorang dari Bani Nadzir. “Dia tidak membawa hal-hal yang tidak kami kenal. Dia juga bukan orang yang pernah kami ceritakan kepadamu”
Dan makna الإستفتاح   adalah memohon kemenangan, yakni memohon kepada Allah dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW atas orang musyrik Arab sebelum kerasulannya, yaitu sebelum diutus menjadi Rasul.
An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِم
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka”.
An-Nasa’i juga meriwayatkan dari Abu Darda’, ia berkarta, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
ابْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُم
“Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا “Maka setelah dating kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya.” Artinya, setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui berupa wahyu dan kenabian, mereka mengingkarinya karena zalin, iri, dengki dan rakus akan kepemimpinan.
فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ “Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” Artinya, Allah mengutuk mereka. Penggunaan dhamir (kata ganti) menunjukkan bahwa laknat itu ditimpakan kepada mereka karena kekafiran mereka. Atau berarti, bahwa laknat Allah ditimpakan kepada setiap orang kafir. Orang Yahudi berada pada urutan pertama dalam kekafiran ini. Sebab pada dasarnya, mereka adalah orang yang paling pantas beriman dengan risalah Muhammad SAW.










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Pelajaran
Allah SWT menerangkan, bahwa setelah al-Qur’an datang dari sisi Allah SWT orang-orang Yahudi mengingkarinya, padahal al-Qur’an itu memberi petunjuk serta membenarkan Kitab Taurat yang ada pada mereka, yang sebelumnya sangat mereka harapkan kedatangannya untuk membenarkan yang terdapat dalam Kitab mereka. Akan tetapi setelah kebenaran yang mereka ketahui itu datang, mereka tidak mau beriman. Sebabnya, ialah karena mereka merasa akan kehilangan pengaruh, kekuasaan dan harta benda. Maka patutlah apabila Allah menyatakan laknat, sebagai imbalan kekafiran yang bersarang dalam dada mereka.








DAFTAR PUSTAKA
Hatta, Ahmad, Tafsir Qur’an PerKata. 2009. Jakarta: Maghfirah Pustaka
Al-Qurthubi, Imam, Jami’ al-Ahkam al-Qur’an. 1964. Mesir: Darul Kutub Al-Misriyah
Mahali, Mudjab, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an. 1989. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Shaleh, Qomaruddin, Dahlan, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat Ayat Al-Qur’an. 1995. Bandung: CV. Diponegoro
Ath-Thabari, Imam, Tafsir Ath-Thabari Jami’ Al-Bayan wa Ta’wil Ayi Qur’an. 2007. Jakarta: Pustaka Azzam
Al-Qurthubi, Imam, Jami’ al-Ahkam al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah
Hawwa, Sa’id, Tafsir al-Asas. 1996. Jakarta: Robbani Press.

Makalah Desain Penelitian

MAKALAH
Desain Penelitian
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metodologi Penelitian

Dosen Pengampu:
Lukman Hakim, M.A




Disusun oleh:
Abdullah Sa’bani

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN (PTIQ)
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam melakukan penelitian salah satu halyang penting ialah membuat design penelitian. Design penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa design yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang brsangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Manfaat design penelitian akan dirasakan oleh semua pihak yang terlihat dalam proses penelitian, karena dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan proses penelitian.
Selain itu, agar sebuah penelitian memiliki batasan-batasan dan dapat disusun secara terstruktur dan terkonsep dengan baik, maka diperlukan sebuah penelitian. Mengingat betapa pentingnya design penelitian, maka penulis akan sedikit membahas mengenai Proses dan Desain Penelitian.
2. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian proses dan desain penelitian
b. Bagaimana sistematika desain penelitian
c. Apa tujuan dan manfaat desain penelitian
3. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian proses dan desain penelitian
b. Untuk mengetahui bagaimana sistematika desain penelitian
c. Untuk mengetahui manfaat desain penelitian


BAB II
PEMBAHASAN
Urgensi Proses Penelitian
Proses penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2003: 81). Untuk membuktikan hipotesis ini, maka peneliti melakukan pengumpulan data pada objek tertentu. Karena dari objek populasi terlalu luas, maka peneliti perlu menggunakan sampel dari populasi tersebut. Dan sampel yang diambil haruslah sampel yang representative (mewakili). Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti dari populasi dan sampel yang ditetapkan selanjutnya dideskripsikan melalui penyajian data. Dengan tujuan memberikan gambaran yang jelas bagi peneliti sendiri maupun orang lain yang berminat mengetahui.

Pengertian Desain Penelitian
Desain adalah rancangan bentuk atau model. Jadi pengertian design penelitian adalah suatu rancangan bentuk atau model suatu penelitian. Desain penelitian mempunyai peranan yang sangat penting, karena keberhasilan suatu penelitian sangat dipengaruhi oleh pilihan terhadap desain ataupun model penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Dalam menyusun strategi penelitian, seorang peneliti harus memperhatikan tiga tipologi design penelitian berikut ini:
Survey design (desain survei)
Case-study design (desain studi kasus), dan
Experimental design (desain eksperimen).
Ketiga tipologi tersebut dilakukan dengan mengambil sampel diantara populasi yang ada. Tentunya akan berbeda, kalau populasi diambil sebagai responden. Apabila seluruh populasi diambil, maka hal tersebut disebut sensus. Sensus adalah pendataan terhadap seluruh populasi mengenai informasi tertentu. Misalnya, sensus nasional yang diselengggarakan oleh Biro Pusat Statistik.
a.  Desain Survei
Desain survei dikenal dalam penelitian ilmu-ilmu sosial yang dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan wawancara terstruktur dengan mendatangi tempatnya masing-masing. Dengan memperhatikan pengertian tersebut, maka design penelitian survei berarti, suatu perancangan penelitian dengan tujuan melakukan pengujian yang cermat dan teliti terhadap suatu obyek penelitian berdasarkan suatu situasi ataupun kondisi tertentu dengan melihat kesesuaiannya dengan pernyataan ataupun nilai tertentu yang diakui dan diamati dengan cermat dan teliti.
b.  Desain Studi Kasus
Penelitian dengan design studi kasus dilakukan dengan observasi secara mendalam terhadap suatu obyek penelitian yang dipilih dari beberapa keadaan yang dianggap keduanya sama. Meskipun beberapa keadaan dianggap sama, tetapi kesimpulan yang diambilnya tidak boleh digeneralisasi sebagai kesimpulan secara menyeluruh terhadap kasus-kasus yang dianggap sama. Penelitian dengan pendekatan ini berusaha memotret sebagaimana adanya, sedetail mungkin, dan selengkap mungkin untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan sebagai penggambaran suatu situasi dianggap sama tersebut.
Sebagai contoh, penelitian dengan masalah perilaku kehidupan sex para penghuni penjara laki-laki. Penelitian mengambil contoh kasus kehidupan salah satu penjara. Peneliti mengadakan pengamatan secara mendalam kehidupan mereka sehari-hari, dianalisis, dismpulkan, dan dilaporkan berdasarkan pendekatan tersebut. Kesimpulan dari studi tersebut, memberikan gambaran secara menyuluruh mengenai suatu kasus yang mungkin akan sama dengan kehidupan penjara lain diseluruh Indonesia. Biasanya pemilihan contoh kasus tersebut dapat diwakili oleh situasi contoh kasus yang digunakan.
c.   Desain Eksperimen
Pengertian eksperimen adalah pengujian apakah ssuatu obyek penelitian sesuai (cocok) dengan kondisi tertentu yangtelah terjadi atau sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Dalam penelitian semacam ini, obyek yan diteliti biasanya belum diketahui dengan pasti sebagaimana pengaruhnya apabila diterapkan pada suatu keadaan ataupun persyaratan tertentu. Sebagai contoh, suatu obat dengan dosis orang-orang barat (yang secara pisik lebih besar) mungkin akan berbeda dosisnya dengan orang-orang Indonesia yang relatif lebih kecil badannya. Distributor obat oerlu menguji apakah dosis yang telah ditetapkan bagi ukuran orang-orang Barat sesuai dengan orang-orang Indonesia. Pengujian ini perlu dilakukan agar sampai jangan sampai obat tersebut menimulkan efek samping yang jauh lebih berbahaya dibandingkan sama sekali tidak meminum obat tersebut. Adapun langkah-langkah desain penelitian yang harus diperhatikan diantaranya:
1.  Judul atau topik penelitian
Sangat disarankan bersifat singkat dan spesifik
2.  Pertanyaan atau masalah penelitian
Pertanyaan berdasarkan minat atau kecenderungan yang diambil dari persoalan yang dibahas
3.  Tinjauan penelitian
Berisi tentang tataran lebih abstrak dari persoalan yang diteliti
4.  Telaah Pustaka
Kajian yang bersifat kritis atau jelajahan (buku-buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian) mengenai beberapa hal, misalnya penjelasan mengenai konsep pokok yang digunakan, serta temuan penelitian lain tentang topik yang sejenis.
5.  Metodologi
Strategi penelitian yang ditempuh, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data
6.  Daftar pustaka
Sumber yang diambil dari buku, jurnal ilmiah, berbagai bentuk penerbitan, dan internet.
3. Tujuan dan Manfaat Desain Penelitian
Tujuan desain penelitian
Studi kasual untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat (menjawab pertanyaan apakah dan mengapa) atau berusaha untuk menjelaskan hubungan-hubungan antara variabel.
Studi korelasional yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara variabel yang diteliti (menjauh pertanyaan sejauh mana pengaruh).
Studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari tantang siapa, apa, dimana, bilamana, dan berapa banyak.
Manfaat desain penelitian
Terkait dengan identifikasi dan atau pengembangan prosedur dan pengaturan logistik yang diperlukan dalam kerja penelitian.
Menekankan pada pentingnya kualitas prosedur-prosedur tersebut dalam kaitannya dengan validitas, obyektifitas, dan keakuratan kerja penelitian.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Desain penelitian merupakan rancangan penilaian untuk mengarahkan kerja penelitian agar lebih efektif, efisien dan tepat sasaran. Hasil penilitian bersifat terbuka dan tidak membatasi variabel. Pengelompokan dapat dilihat dari sudut pandang perumusan masalah, metode pengumpulan data, pengedalian variable-variabel, oleh peneliti, tujuan, dan lingkungan studi. Sumber potensial kesalahan dalam penelitian adalah kesalahan dalam perencanaan, pengumpulan data, melakukan analisis, dan pelaporan. Dan yang terpeting dengan adanya desain penelitian ini lebih dapat memberikan rasa kepercayaan seorang pembaca akan penelitian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, Cetakan: 12, 2017, Bandung: Alfabeta
https://ebekunt.files.wordpress.com/2009/04/metodologi-penelitian.pdf
file:///D:/Metodologi%20Penelitian%20Gunadarma.pdf
Pawito, Ph.D. Penelitian Komunikasi Kualitatif, Cetakan: 2, 2008, Yogyakarta: Lkis Yogyakarta,
https://www.academia.edu/6390167/Desain_Penelitian

*Mengenal Lebih Dekat Dunia Jurnalistik, Pesantren Modern Primago Menggelar Pelatihan Jurnalistik Bersama Pimpinan Redaksi Gontornews.com.*

 *Mengenal Lebih Dekat Dunia Jurnalistik, Pesantren Modern Primago Menggelar Pelatihan Jurnalistik Bersama Pimpinan Redaksi Gontornews.com.*...